Rabu, 29 Februari 2012

stress

Beberapa hari lalu gw sempat sakit, demam dan batuk tapi tetap masuk kerja. Ada temen kantor yang juga sama-sama sakit mengajak gw pijat kesehatan. Metode pijatnya dengan pijat kaki di tempat-tempat tertentu. Ada titik-titik untuk masing-masing penyakit seperti stress, kanker, tumor, liver dan lain-lain. Baru dipijat di titik pertama gw langsung jerit. Sakiiiiit. Tahu tidak diagnosanya apa? STRESS. Yeah, gw stress!! Urat leher dan pundak tegang semua. Pantesan ya selera musik gw di hari itu yang kelam-kelam semua. Selain itu, si Bapak ini bisa menebak apa yang sedang berkecamuk di pikiran. “Ini siapa yang sedang dipikirin?”,tanyanya dalam bahasa Jawa. Gw cengengesan aja. ‘kamu tersenyum tapi didalemnya nangis..cerita aja sama mbak Fie. Jangan penuh kepura-puraan’,ujarnya. Jleb. Dalem. Antara mau nangis karena sakit dipijat ama nangis karena memang gw lagi ada masalah.

Terus waktu hari senin kemarin, gw bener-bener kehabisan uang. Gaji bulanan mundur. Seharusnya kalau tanggal 25 jatuh di weekend biasanya dimajuin. Ini yang kedua kalinya dimundurin. 3 tahun kerja gw engga pernah minta duit orang tua kecuali duit kecil buat ongkos. Udah misuh-misuh, eh temen gw ada yang lebih parah lagi gajinya baru dibayar bulan Maret. Gw pasang DP bbm iklan obat pusing yang dimodifikasi. Sesuai dengan dompet yang tinggal Rp 10.000. Salah satu teman gw bbm setelah gw pasang itu. Chatting sama dia, gw jadi kesel sendiri. ‘Jangan mengeluh mulu’, tulisnya. Gw bengong. Siapa yang mengeluh? Gw tidak merasa mengeluh kepada siapa-siapa. Maksudnya temen gw baik ya, “Semuanya pasti ada hikmahnya”. Ya gw sekarang lebih menghargai orang-orang yang menuntut hak kesejahteraan mereka. Tapi perkataannya membuat gw berpikir benarkah gw seorang pengeluh?


Perhatikan selama satu terakhir di blog gw jarang nulis hal pribadi. Tidak sebanyak ketika gw masih kuliah karena saat itu menulis di blog menjadi terapi tersendiri buat gw. Sekarang gw menahan diri untuk tidak langsung mencurahkan semuanya. Kepala dan hati didinginkan dahulu. Gw tahu persis maksud si Bapak Dicki dengan mengatakan hidup gw yang penuh kepura-puraan. Ya,dia benar! Jujur gw pura-pura kuat menghadapi dunia. Berusaha kuat sendiri. Jika ada kesulitan maunya diselesaikan dengan tangan sendiri walaupun kesulitan itu lebih besar dari kemampuan gw untuk menghadapinya. Tersenyum tetapi menangis di dalam hati. Gw tidak bisa juga berbagi dengan teman-teman gw karena mereka sendiri punya kesibukan dan masalah sendiri. Kalau hal yang jelas seperti gw berkabung saja engga peduli apalagi hal yang detail dan lebih sensitif, gw tidak mau kecewa dan tidak ingin dikasihani. Merasa beruntung karena ada orang-orang yang jauh lebih sengsara dari hidup sendiri bukan hal yang baik tetapi tidak bisa dipungkiri membuat kita menjadi bersyukur “keadaan lo ini masih mending lho daripada bla..bla..bla..”. Kadang gw merasa hidup itu dari satu masalah ke masalah lainnya. Melihat ke belakang masa lalu perlu juga sebagai pengingat kalau gw pernah merasakan yang tekanan yang lebih berat dari sekarang dan meyakinkan diri 'gw bisa melewati semua ini'.

Satu persatu ada jalan terangnya. Gaji masuk di senin siangnya, problem 1 closed. Gw tetap tidak terima dan tidak suka dibilang pengeluh. Karena gw engga cerita apa-apa juga ama dia. Jadi atas dasar apa bilang gw pengeluh.

0 komentar:

Poskan Komentar